umurku 17 tahun, tapi belum pernah kepikiran nyoba kabur

by - April 02, 2011


Ini Kamis, hari terakhir di bulan Maret 2011, aku kembali bolos sekolah, sepele, alasannya cuma malas. Kebetulan sekolah mendukung kemalasanku dengan kebijakan barunya, mulai Senin kemarin setiap hari aku dan kelas 12 lainnya akan pulang sekitar jam 10 atau pas jam pelajaran ke-4 berakhir. Dan akhirnya aku hidup dengan tenang; bangun jam 8 pagi, setelah mandi, sarapan, dan sedikit berolahraga dengan lari-lari kecil dan berkongkow dengan bola basket di garasi, aku menghabiskan waktu bersemayam di kamar, bersalome ria dengan joybook kesayanganku dan aplikasi-aplikasi yang bejibun di dalamnya. Menginjak pukul 10, saat game Stronghold Crusader sedang seru-serunya dan aku hampir saja membakar semua Apple Orchird dan Cathedral milik musuhku, Lord Frederick, aku kembali terhipnotis untuk membuka aplikasi wordPad dan menulis sesuatu, saat tulisan ini belum berjudul, saat itu juga aku belum mengalami hal yang menakjubkan hari ini.
Rumah di Kamis pagi seperti biasa, sepi, selain aku dan tujuh nyawaku, hanya ada mami yang sedang sibuk memindahkan koleksi bibit Anthuriumnya yang mulai menumpuk di pinggir kolam belakang rumah, katanya lumayan kalau sudah besar-besar bisa nambahin modal aku kuliah nanti. Jam dindong setinggi langit-langit di ruang tengah mendadak berdenting, suaranya yang menggema hebat terdengar ke setiap penjuru rumah yang ia buat semakin senyap dan mencekam, namun setelah denting ke sebelas ia pun berhenti, mati. (see more)
Setelah itu yang aku ingat hanya game, berjam-jam sudah aku berperang melawan Lord Frederick dan sekutunya The Emir Omar yang terus menerus memanahi Quarry dan Square Tower milikku secara bergerilya, dengan gold coin yang menyentuh angka 14.000 aku membeli banyak Catapult dan Horse Archer, tapi nihil, tetap saja aku terus bisa mereka tekan. Hampir frustasi, aku Alt+Tab game itu, berharap konyol saat aku buka lagi semua musuhku sudah kalah secara otomatis. Setelah menyusuri desktop dan akhirnya double click untuk aplikasi GOM Player, aku harus menelusur file musik yang belum dicap membosankan sebelum akhirnya bisa berbaring tenang dengan headset yang friendly. Sudut mataku berhenti di folder paling bawah, dinamai ‘playlist iyang’, lebih banyak lagu yang asing dibanding yang aku hafal. Tapi tak apa, dia suka, aku juga coba sukai.
Butuh goncangan ekstra kuat untuk menyadarkan aku yang setengah tertidur dibuai lagu-lagu beraliran gak jelas, dan mami melakukan itu dengan sangat baik, sepertinya dia tidak ingat aturan main kalau mau membangunkanku dan bahkan dia lupa untuk mengetuk pintu kamar sebelum masuk. “Isma, mana sini baju yang mau di online shop-in teh! Minta 3 stel aja, cepetan bangun ditunggu sekarang sama warga!”, “Apaan? Warga? Mih, tunggu dulu! Heeeeei malah melengos!” mami sedikit terbahak mendengar kalimat terkahirku, tapi kakinya terus tergesa menuruni anak tangga dan meninggalkan aku yang kambingungan. Aku tahu watak mami, kala sedang urgent seperti ini, dia bisa sangat sangat mudah marah. Malah tanpa ada sebab bisa tiba-tiba marah, kata orang sangat mirip dengan watakku. Aku pun berdiri, melepas headset yang masih mendayu-dayu dan mengambil langkah seratus menuju lemari pakaian sampai akhirnya mengambil langkah seribu menuju lantai bawah dengan sekarung baju-baju bekasku yang sengaja dipisah dari rekannya di dalam lemari yang mulai membludal. Sampai di bawah aku lempar bundelan bau kamper itu ke atas sofa, lumayan juga lari-lari turun tangga bawa beban seberat itu. Tanpa direncakan, setelah dilempar ternyata isinya menghambur keluar, baju-baju bekasku melompar-lompat membentuk hamparan abstrak di sofa dan karpet, tepat setelah itu ada hawa panas menghampiri dari arah belakangku…
Setelah dapat pelototan mami dan bonus pukulan di pantat, aku lipat dan susun lagi baju-baju itu di atas meja sambil memilah-milah baju mana yang bisa aku ikhlaskan kepada seorang gadis yang katanya ditemukan tidur di pos ronda, katanya badannya basah kuyup, katanya jiwanya rada-rada terguncang, katanya mukanya seperti orang berada, dan faktanya selama aku memilih baju mami terus mengoceh tentang gadis tak dikenal itu. Pada akhirnya, mami juga yang memilihkan baju, padahal aku sudah pilihkan 3 stel baju dengan senang hati, tapi dengan riang gembira mami bilang semakin bagus bajunya maka pahalanya semakin bagus juga. 10 menit berikutnya, lebih dari 5 stel baju-baju kesayanganku tereliminasi ke dalam tas Tinkerbell bekas kesayanganku juga, coduroy maroon Janette kesayanganku, t-shirt Hani & Robert’s kesayanganku, dan beberapa lainnya adalah baju andalan untuk dijual di online shop pertamaku nanti. Muncul pikiran jangan-jangan gadis itu anak mami yang sebenarnya.
Aku berjalan setengah berlari, masih dengan seragam rumahku; celana pendek dan kaos lusuh lengkap dengan sendal rumah bulu-bulu pemberian iyang. Mami terlalu berlebihan menyikapi gadis tak dikenal kali ini, sampai-sampai harus menggusur anak kandungnya sendiri yang tadinya berniat makan siang untuk ikut menyerahkan baju-baju bekas itu secara langsung, katanya kalau ikhlas harus ijab kabul. Jujur, ada indikasi ketertarikan tersendiri dalam batinku, terlebih saat mami bilang umurnya lebih muda dariku, aku langsung bisa menebak anak gadis ini tengah mengalami masalah yang mungkin diluar batas nalarnya. Umurku 17 tahun lebih, sebentar lagi aku menjadi mahasiswi, aku punya tabungan yang cukup jika ingin hidup sendiri selama beberapa bulan, aku juga punya banyak link dan teman-teman yang siap membantu kapan saja. Tapi, sampai detik ini, belum pernah terpikir sedikit pun untuk mencoba kabur dari rumah apalagi sampai tidur di pos ronda dan jadi tontonan warga.
Akhirnya gadis itu menatapku… di pos ronda~
Matanya kosong, kantung matanya hitam bengkak, mungkin dia sudah nangis selama berhari-hari sampai air matanya berubah menjadi lumpur pekat. Badannya tidak kurus, terlihat sehat, pasti karena kaburnya belum lama. Tapi benar juga kata mami, umurnya pasti beberapa tahun lebih muda dariku, terlihat dari beberapa bagian anatomi tubunya yang tidak seperti remaja 17 tahun. Aku mundur beberapa langkah, rasanya tatapan gadis itu membuatku ingin pulang dan berendam air hangat, badannya yang tidak sedap dicium mengokohkan keyakinanku kabur dari rumah itu memang tidak ada untungnya. Tiba-tiba ada oasis khayalan di depan pos ronda itu, kalau aku kabur, apa mami bakal senang? Sudah dipastikan akan ada penghematan besar-besaran saat aku tidak di rumah, karena di antara anak mami kayaknya cuma aku yang paling banyak mengeruk dan meminta.
Oasis itu bubar, tanpa sadar mami menarik tanganku dan kini jarakku dan anak gadis menyeramkan itu hanya beberapa meter saja. Pandangan matanya tidak berubah, justru semakin terlihat jelas saat jarak kita hanya terpaut selangkah kaki, bibirnya yang menyungging sinis membuat emosiku terbakar. Tidak tahukah ia aku yang jadi perantara Tuhan untuk menyelamatkannya dari kedinginan dan baju usang yang bau sampah itu? Gembel! Melihat ekspresiku mami dengan halus mengusap-ngusap punggung dan pundakku. “De, ganti bajunya dulu ya? Ini ada baju kakak ini buat ade, kayaknya muat deh!” mami berlagak sok manis menghadapi makhluk error di depanku ini. Namun tak disangka perlahan ekspresi gadis kotor ini melunak, matanya menghangat meski kantung dibawahnya semakin menggelayut menandakan semakin detik kelelahan semakin merenggut kesadarannya. Selain aku dan mami, tentu ada banyak warga yang menonton gadis itu, dengan wajah yang cukup ayu, kebanyakan penontonnya adalah laki-laki dan bapak-bapak bermuka omesh.
Hari tenangku berubah tidak menyenangkan karena kejadian ini, terlebih saat matahari membakar lebih kejam dari setengah jam sebelumnya, belum ada warga yang berhasil mengorek informasi dari gadis itu, dia hanya mengedarkan pandangannya tanpa berkata-kata, sesekali juga dia menatapku dan aku balas dengan tatapan yang sedikit tanpa minat, berharap dengan melihat mataku dia jadi berpikir tidak baik mempermainkan tetangga-tetanggaku dengan sikap bungkamnya itu.
Siang berganti sore, singkat cerita gadis itu dibawa ke kantor polisi oleh beberapa tetanggaku dan ketua RT. Sedangkan aku akhirnya kebingungan bagaimana mengakhiri tulisan kali ini, benar-benar bingung, kisah gadis tak dikenal itu buntu karena aku memutuskan pulang ke rumah tanpa mami dan mengisi perut sebelum kembali bergulat dengan game Stronghold Crusader yang tengah mati suri dan beberapa program running yang tadi sempat aku campakan demi mami. Aku Alt+tab kembali game sadis itu, sembari komat-kamit aku menyusun strategi baru dan akhirnya bisa mengalahkan The Emir Omar, meskipun tidak lama setalahnya Lord Frederick berhasil membakar Premier Castle ku yang berarti mengalahkan segala tahta dan titik nadi kerajaan yang aku pimpin, game over.
NB: Tidak sedikit pun terlintas ide untuk mengabadikan gadis itu dalam sebuah foto, maaf.

You May Also Like

0 komentar

Popular Posts