Aku pikir, setelah seorang anak menikah, maka orang tua akan merasa lebih ringan; financially, mentally, physically. Karena setelah menikah, si anak harus mandiri, harus bisa mengurusi hidupnya sendiri dan tidak lagi banyak membutuhkan peran orang tua. Bahkan si anak itu kemudian (dengan izin Allah) akan menjadi orang tua juga dan menjalankan peran yang sama seperti orang tua mereka dulu. Pikirku, setelah si anak menikah, hilang sudah ia dari pikiran orang tuanya. Ternyata, aku salah.. Sangat salah, bahkan. Tahun 2025 ini, usia pernikahanku memasuki tahun ke-6. Apakah aku bahagia? Insya Allah iya. Sepertinya iya. Aku lupa apakah suamiku pernah bertanya aku bahagia atau tidak bersamanya, he’s not big at words. Love language suamiku act of service , bukan words of affirmation . Tapi kalau dipikir lagi, mungkin suami tidak bertanya karena takut juga mendengar jawabannya. Seandainya ternyata aku bilang aku kurang bahagia, siapkah dia legowo menerimanya? Apa yang harus dia lakukan setelah...
Comments