Tulisan kali ini akan menceritakan pengalaman pertamaku terjun ke dunia radio/broadcasting. Karena banyak orang yang
nanya kenapa bisa? Kenapa mau? Gimana tuh awalnya? Dan aku mulai bosan mengulang
jawaban-jawaban yang sama setiap kali.
Awalnya, paling awal dari semua prosesnya,
adalah menjadi penyiar radio merupakan keinginanku sejak SMA. Dulu beberapa
temen SMA-ku ada yang jadi MJ (Music
Jockey) di radio swasta bergenre anak muda di
Tasikmalaya, tapi waktu itu aku belum berani ikutan, dan lagi orangtua kurang
setuju aku membagi waktu sekolah dengan kegiatan lain. Akhirnya, keinginan itu dipending sampai aku habis SKS kuliah tahun
lalu.
Sekitar
bulan November tahun 2016 ketika aku sedang disibukkan dengan persiapan sidang
skripsi dan urusan administrasi kampus lainnya, aku melihat postingan komunitas
Psikologua tentang event seminar public speaking yang akan mereka adakan
di Auditorium RRI Bandung dalam waktu dekat. Saat itu aku pikir presentasi
Tugas Akhirku akan lebih bagus kalau aku setidaknya punya ilmu tentang public speaking. Singkat cerita, setelah
mempelajari detail acaranya dan melakukan registrasi via aplikasi Eventbrite
dimana aku melihat postingan itu, aku datang ke Auditorium RRI pada hari dan
jam yang ditentukan. Ternyata, event
itu memang bekerjasama dengan RRI PRO2, salah satu program di RRI yang
diperuntukkan khusus untuk pendengar remaja. Jadi di RRI itu ada PRO1, PRO2,
PRO3 dan PRO4, dimana masing-masingnya punya frekuensi gelombang yang berbeda dan segmentasi
pendengar yang berbeda-beda juga.
Di akhir
acara seminar public speaking itu, salah satu pimpinan PRO2, yang sekarang aku
kenal beliau sebagai Kang Roy Wijaya, mengumumkan bahwa RRI membuka sekolah
penyiaran yang terdiri dari kelas free (gratis) dan reguler setiap hari Sabtu
dan Minggu. Seolah gayung bersambut, aku pun menyimpan kontak Kang Rio (salah
satu penyiar yang sekarang udah jadi Music Director PRO2) untuk menanyakan
pendaftaran sekolah penyiar yang dinamai PRO2 Announcer School itu lebih lanjut.
Minggu pagi
di tanggal 1 Januari, ketika aku duduk berkontemplasi sambil menyesap green tea
latte panas sehabis mandi, aku berpikir tentang resolusi-resolusi yang ingin
aku capai di tahun 2017 ini. Apakah aku akan kembali merencanakan pembangunan
pelabuhan? Apakah aku akan mulai menulis novel? Kapan aku akan serius mendaftar
kursus jahit dan les nyetir? Kapan aku menuruti keinginan mami untuk masuk
pesantren sebelum menikah? Aku terus berpikir, mencerna banyak hal dan
membayangkan semua kemungkinan yang bisa terjadi sebagai konsekuensi dari
sebuah keputusan. Tiba-tiba aku teringat kontak WhatsApp penyiar RRI yang
kusimpan, tanpa pikir panjang aku meraih ponselku dan mendaftarkan diri di PRO2
Announcer Shcool. Sejak hari itu, aku bertekad tahun 2017 harus banyak mendapat
hal baru dan mencoba dunia baru yang aku tidak pernah tahu aku bisa ada di
dalamnya..
Dua bulan
berlalu di kelas free PRO2 Announcer School, aku memutuskan mengikuti paket
kelas reguler yang hanya diikuti 8 orang siswa di batch ke sekian itu. Kelas
reguler hanya 3 kali pertemuan, dan sekarang aku sudah lulus. Ternyata, alumni
PRO2 Announcer School RRI sudah ratusan lho, dan tersebar di banyak radio
swasta bahkan stasiun TV lokal dan Nasional. Sekarang, kalau mau ngelamar jadi
penyiar radio atau presenter TV, aku punya sertifikat dan CD sample voice suaraku sendiri yang dapat
diperhitungkan. Aku bersyukur bisa sampai ke tahap ini, bersyukur karena ternyata
aku punya bakat dalam berbicara, bersyukur bertemu orang-orang yang jauh
berbeda dengan yang kutemui biasanya, bersyukur pada banyak hal yang tak akan
pernah habis jika dirinci, dan akan semakin banyak hal yang patut disyukuri
jika dicermati.
Aku sangat mencintai
keseimbangan. Dan disinilah aku sekarang.. rutin siaran, sambil tetap memutuskan jadi
tim ahli pembangunan pelabuhan, satu tulisanku sedang proses penerbitan menjadi
buku antologi, belajar startup dari online shopku yang cukup
berkembang, tidak melewatkan muaythai setiap Senin pagi, dan meskipun belum siap
meluangkan waktu sebulan penuh untuk pesantren tapi kajian Kamis malam masuk ke
dalam agenda prioritasku. Aku sekuat tenaga meraih apapun yang ingin kuraih,
tapi aku tidak berkenan menuliskan cerita pilu dan sulitnya sebuah pencapaian.
Orang di luar sana menghargai kita dari hasil, mengabaikan jerih payah dan
kepayahan kita. Aku berusaha tidak mengeluh, apalagi kalau harus dibaca orang.
Apa yang aku dapat saat ini tidak ada satu pun yang mudah. Jika ada yang berkata
aku punya faktor ‘luck’, mungkin itu
benar, tapi mereka tidak tahu juga dari serangkaian kemudahan ini ada sisi lain
yang sulitnya menggelayutiku kemanapun kakiku melangkah. Kau tahu apa itu?
Kuliah. Ya, Allah menyeimbangkan hidupku juga dengan cara-Nya, ketika banyak hal
di luar kampus bisa kugapai, justru proses yang tinggal sebulir di ujung daun
itu tak kunjung selesai. Transisi kebijakan memukul mundur semangatku, membiaskan
rona baru pada warna hidup yang sudah ramai. Dan tapi ketika aku ikhlas,
tersadar semuanya adalah ujian agar menjadi ikhsan.
“Kita tidak
boleh pelit ilmu, ilmu yang diajarkan pada orang lain adalah sedekah jariyah
untuk bekal kita mati.” kata mentor-mentorku disetiap kesempatan. Aku masih
sangat baru, tapi aku tak akan menimbun ilmu di kepalaku. Kalau yang baca tulisan
ini ingin juga jadi penyiar radio, datang saja langsung ke Jl. Diponegoro.
Biasanya kalau belum kenal suka malu, email saja dulu: ismahanifa18@gmail.com. I am available everytime to share everyting
about public speaking and broadcasting, or maybe about writing and how to reach
publishing, or even about city designing and harbor planning? You choose.

P.S: “Sekali
di Udara Tetap di Udara” itu mottonya RRI, kenapa aku bangga banget menjadi
bagian dari RRI dan gak berminat ngelamar jadi penyiar di radio lain? Tunggu tulisan selanjutnya, ya!
Comments