“Adalah
mustahil senangkan semua pihak.”
Kalimat di atas
sepertinya mewakili kehidupan bersosial kita sehari-hari. Apapun yang kita
lakukan, apapun yang kita putuskan, akan selalu memunculkan pro dan kontra dari
lingkungan sekitar, maka dari itu berhentilah untuk berusaha disukai semua
orang.
Istilah haters mulai popular di awal tahun
2010-an, ketika itu hampir semua orang memiliki akun media sosial, sehingga
memungkinkan terjadinya komunikasi yang lebih bebas dan transparan. Orang-orang
bisa mengumbar kemesraan dan kasih sayang, tapi juga mulai banyak yang
terang-terangan tidak menyukai satu individu atau kelompok.
Aku pikir
masing-masing dari kita punya haters, yang
nampak atau tidak sama aja. Kita juga mungkin adalah haters untuk sesama, karena kita adalah bagian dari ‘semua pihak’
yang mustahil mereka senangkan.
Lalu, bagaimana
menghadapi haters?
Gampang.
Haters erat
kaitannya dengan penghinaan. Maka ketika mereka menghina, ingatkan diri kita
bahwa kita adalah manusia yang tidak akan pernah sempurna. Kita adalah makhluk
Tuhan yang kerap melakukan kesalahan, bahkan berlumur dosa..
Sakit hati
karena dihina adalah wajar, tapi jika kronis hingga mendendam adalah ciri bahwa
kita merasa lebih baik dari hinaan itu. Coba kalau kita merasa lebih jelek?
Bukan mustahil kan setiap ada orang yang menghina justru kita hadiahi senyum
tulus dan berlapang dada.
Ketika haters
menghinamu, katakan “Ah, dia hanya tahu sedikit dari sekian banyak kejelekan
yang aku miliki. Dia hanya mengumbar sedikit keburukan dari banyaknya aibku
yang Allah sembunyikan.” Dengan begitu, hatimu terjamin lebih tenang dan tidak
ambil pusing.
Sepertinya
gampang, sih, tapi hanya orang-orang berhati bersih dan ikhlas yang bisa mempraktekannya.
Lalu kenapa kita tidak belajar sedari kini?
(Tulisan ini
terinspirasi setelah mengikuti kajian dakwah Aa Gym, beliau amat sangat tenang
menghadapi haters yang gencar menghinanya
di Twitter)
Comments