Tentang Kecewa yang Harus Kau Pahami

“Kita boleh kecewa pada manusia, tapi jangan karena itu kita mengecewakan Tuhan.”

Kalimat di atas sebetulnya sudah cukup mewakili seluruh isi tulisan ini. Selebihnya, bacalah sekedar agar kau lebih mengerti.

Beberapa waktu belakangan ini, aku mengamati fenomena yang hampir serupa: seorang wanita terluka, lalu memutuskan untuk terbuka. Lebih jelasnya, banyak wanita yang kecewa pada pria, lalu kemudian memutuskan melepas jilbabnya.

Ini terjadi bahkan pada teman dekatku, aku mengamatinya dan ia tahu aku sepemikir itu. Aku bilang padanya hal ini seperti berpola, perilaku meluapkan amarah dan berusaha menutupi luka. Temanku mengonfirmasi benar, bahwa saat ini begitu kuat keinginan untuk menunjukkan bahwa ia ‘baik-baik’ saja, bahkan lebih baik sebelum kejadian dunia jungkir balik itu menimpanya. Namun, saat ia berusaha tampil superior menurut standarnya, ia lupa hal yang paling krusial: batas-batas yang diberikan Tuhannya.

Bukan kapasitasku menggurui, tapi sungguh sayang.. saat kita dikecewakan, doa kita menjadi  lebih punya kekuatan. Tak ada sekat antara doa orang yang terzdolimi dengan Sang Pencipta, lalu kau memilih menjauhi-Nya? Justru disaat kamu paling membutuhkan uluran kasih-Nya?

Menutup aurat memang bukan jaminan seseorang itu alim, pun jika ia memutuskan memamerkannya, tidak serta-merta ia menjadi nirmoral. Tapi.. bukankah ujian hidup harusnya membuat kita naik level keimanan? Bukan justru condong pada kebathilan?

Barangkali saat rambutmu tergerai itu kau masih berdzikir, mungkin saat mulai tinggi rokmu terbelah itu kau sedang puasa sunah. Tapi sungguh sayang.. auratmu banyak mengurangi yang seharusnya kau dapatkan.

Jika kau kecewa pada manusia, marahlah padanya, menangislah karenanya, luapkan dengan apapun yang kau rasa aman: berteriaklah, menulislah, bernyanyilah. Sesaat kemudian saat kau sedikit tenang, berjanjilah.. bahwa kau tidak perlu mendendam, bahwa kau tidak perlu membuktikan perubahan. Biar orang itu mengecewakanmu, tapi kamu tetap dekat dengan Tuhan.

Pakai lagi jilbabmu, longgarkan lagi baju-bajumu. Tutup mata dan telinga pada semua yang mendorongmu terbuka. Menjadi seksi bukan move on, itu tanda kamu mencari respon. Kembalilah, batasi diri, coba bersimpuh yang lama di sepertiga malam nanti. Dekati Dia lagi, maka Dia akan mendekapmu lebih-lebih..

Catatan untuk seorang teman yang bilang biasanya aku tidak peduli. Dan mungkin memang.

Comments

Popular posts from this blog

Book Review: When the Sky is Blooming by Ilana Tan

Oemjiiiii, Bangtan!

If you are not as caring as my dad