Posts

Namanya Arsyad, aku biasa memanggilnya Masbro.

Image
Namanya Arsyad Kharis Fahdkhurrokhim, aku biasa memanggilnya Masbro. Dia tidak hanya teman sekelasku, dia sudah seperti kakak laki-lakiku. Aku kenal dia belum lama, hanya sejak tahun 2011 awal aku masuk kuliah. Tapi aku pastikan persahabatanku dengannya tak akan menemui akhir, meskipun sekarang mustahil aku menemuinya. Dia berhenti kuliah menjelang semester 3, mempersingkat kebersamaan yang harusnya lama 'Life is unfair', ungkapan yang tepat menggambarkan hidupnya di pertengahan 2012 Ia harus menggantikan peran orangtua memeras keringat, mengukir peluh Lalu direlakannya Bandung untuk pulang ke kampungnya di Salatiga, Semarang. 2 Mei 2013, dia mengunjungi Bandung tanpa sepengetahuanku sampai menangis haru dibuatnya pagi itu, ketika dia tiba-tiba muncul di balik pintu sahabat yang lama tak kujumpa, masih semenyenangkan dulu berbagi kisah dengannya Pantas saja banyak dari kami -teman-temannya- yang selalu rindu Berharap bisa mengunjungi tempat tinggalnya suatu ...

Ketiba-tibaan ke Tebing Keraton

Image
Sebelumnya, aku ambil ulasan dulu dari Wikipedia: Tebing Keraton merupakan sebuah tebing yang berada di dalam kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Tebing ini terletak di Kampung Ciharegem Puncak, Desa Ciburial, Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Dari Tebing Keraton dapat menikmati pemandangan spektakuler. Bukan lampu kota, melainkan hutan! Tidak sulit untuk mencapai Tebing Keraton. Dari pusat kota Bandung, bertolaklah ke arah Dago Pakar, kemudian ke arah Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Setelah pintu gerbang Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, beloklah ke kanan. Anda akan melewati rumah-rumah besar dan kemudian perkampungan. Setelah itu Anda akan sampai di sebuah warung dengan baliho besar bertuliskan 'Warung Bandrek' alias Warban. Perjalanan belum selesai, pacu kendaraan Anda melewati tanjakan dan jalan berbatu sampai pos teratas, langsung di Tebing Keraton. Di sini, anda bisa memarkir motor dan mobil. Untuk mencapai tebing tersebut, anda hanya perlu berjalan kak...

Lo, Gue, Unfriend!

Image
Alasan gue nge-unshare lo di Path: 1.      Lo gak pernah kasih emote 2.      Kayaknya gue gak akan check in with lo juga, kita kan gak pernah maen bareng, kalopun iya gue males nyebutin lagi sama lo 3.      Friends Path gue hampir full dan friend request dari temen deket juga masih banyak 4.      Kagak usah temenan di Path juga kan kita sekampus. Ngapa juga dimana-mana harus ada lo? 5.      Update-an lu Garing Abis! Sarat SARA, kadang caption lu menjurus jorok-jorok juga. Sareukseuk gue lihatnya. Kek yang baru pacaran aja lo, apa iya? 6.      Ini yang fatal; Jari Lo Busuk! Gak cuma ke gue, banyak temen yang apdetannya suka lo komen dengan pedas & gak tahu batas. Di dunia nyata gak satu dua orang yang pernah curhat sakit hati gara-gara celetukan lo yang kepalang bejat. At least, penyakit lisan jangan dibawa ke tulisan, kita sering perang omongan sali...

Si Anak Sepeda

Image
“Eh, kamu kemaren nyampe rumah langsung tidur ya? Sebel” “Enggak juga, sih.. Kok sebel, emang napa kan udah ketemu inih” “Bisa kali tunggu sampe aku di kosan. Pffft.” Ada banyak hal dalam hidup ini yang bisa kita curahkan dalam tulisan, tapi hanya sedikit yang benar-benar harus dikunci dalam bait prosa karena tak akan terulang. Kisah aku dan si anak sepeda contohnya, ibarat serial movie Harry Potter, satu tahun hanya keluar satu episode, tapi hingga ceritanya usai di tahun ke-7, film itu melegenda dan tak mungkin dilupakan penggemar setianya.. “Kamu sadar gak, sih, kita tuh baru ketemu lagi setelah 7 tahun? Tapi kok gak excited ya? Gak canggung juga” “Iya, sejak aku pindah SMP ya.. Ya soalnya kitanya biasa aja, maksudnya meskipun gak pernah ketemu tapi selama ini kan temenan di sosial media, aku tahu kabar kamu, kehidupan kamu. Jadi pas ketemu ya gak asing” “Berarti bener ya, sejauh apapun kita pergi kita akan tetap ketemu di sosial media. At least selama kitanya updat...

Belum 12 jam kita bersama.. So much love for you, baby kitty.

Image
Hal yang sama yang selalu terjadi acap kali aku akan menulis adalah, aku bingung bagaimana memulai tulisan ini; Kata apa dulu? Kalimat yang seperti apa dulu? Selalu begitu. Seperti sore yang random ini, aku tidak tahu harus memulai dari menuliskan kata apa. Yang pasti, kisahnya bergulir lebih dari setahun yang lalu.. Diiringi alunan lagu-lagu Dygta dan Kahitna, gaya tulisan kali ini akan terbawa sedikit melankolis.. Minggu, 18 Agustus 2013, sekitar pukul 12 siang Lokasi: Pasar Gegerkalong, Bandung Mentari Bandung biasanya tak sesengit ini, betapapun dia tengah di musim pancaroba. Berjalan di ruang terbuka bak menapaki panggangan pizza, apalagi kalau harus duduk-duduk di bangku lapangan bola, aku yakin panas siang ini akan menembus segala macam tabir surya. Aku dan Thossan (pacarku, -red.) berniat langsung pulang setelah menghadiri sebuah acara, sebelum ke rumah kami mampir ke Pasar Gegerkalong atau Pasar Gerlong di daerah Setiabudhi Bandung. Jarang-jarang kami ke sini, mungkin in...