#catatanumroh Maybe change the way we pray
Jika kita percaya pada teori bahwa umroh hanya tentang kemampuan finansial, maka kita sudah salah besar. Bertahun-tahun aku penasaran, kenapa Allah belum mengundangku ke Tanah Suci, padahal dari hitung-hitungan manusia, rasanya aku bisa menjalankan syariat agama ini sejak beberapa tahun lalu. Bukan aku berbangga diri, tapi sejujurnya aku terus belajar untuk istiqomah sholat tahajud, qobliyah subuh, syuruk dan duha. Setiap ada kerbat atau teman yang umroh, aku berusaha untuk tidak iri, berusaha tidak membanding-bandingkan ibadahnya, hijabnya, akhlaknya karena aku tahu terlepas dari itu, kuncinya tetap Allah mengizinkan mereka pergi. Dan memang, kita hidup dengan hukum dan matematika Allah, tak peduli saat sibuk kerja, tak melihat anak sedang manja-manjanya, bahkan tak terhalang perang dunia yang pecah di Timur Tengah sana, aku akhirnya bisa umroh di tahun ini. Alhamdulillah, ini takdir terbaik di waktu yang terbaik pula (menurut-Nya).
Di tahun 2022/2023 lalu biasanya aku hanya berdoa “Ya Allah undang aku” atau “Ya Allah mampukan aku”. Lalu di 2025 akhir itu aku ingat aku mengganti doaku, sambil dalam keadaan frustasi dan desperate karena sudah sangat ingin pergi, aku menengadah membuat perjanjian “Ya Allah, kalau kau undang aku, aku berjanji selama di sana aku akan hapus aplikasi-aplikasi sosmedku, barangkali Kau merasa aku pergi hanya untuk validasi. Aku akan hapus dan tidak banyak bicara. Dan kalau Kau undang aku, aku janji tidak akan beli baju baru, barangkali Kau tahu aku selalu punya outif baru setiap acara, kali ini akan ingin menghadapmu dengan sederhana, dengan aku apa adanya, tidak bawa make up ata pun dandan berlebih-lebihan, aku janji akan menekan jejak karbon perjalanan ini sebanyak yang aku mampu. Aku janji, maka undanglah aku ya Allah.” (Tentu Allah tahu kan kalau aku kerja di sektor lingkungan, dan dia Maha Expert sebagai pencipta karbon itu sendiri, hehe)
Entah kenapa, beberapa bulan setelah rutin berdoa seperti itu, aku merasa Allah memudahkan semuanya..
Bisa jadi, merekonstruksi ucapan doa adalah salah satu cara mempercepat Allah mengabulkan doa itu. Bukan karena Dia ingin mempersulit, tapi Dia tahu mana hamba-Nya yang masih bisa tenang menunggu dan mana yang sudah ingin memaksa. Jika kasih sayang Allah pada manusia jauh lebih besar dari kasih sayang seorang Ibu pada anaknya, maka aku akan merengek bahkan meraung-raung agar dituruti kemauanku oleh-Nya, pikirku saat itu.
Maka untuk semua yang punya hajat besar, yang punya cita-cita hampir mustahil atau mimpi-mimpi yang terlampau tinggi, rebutlah keridhoan Tuhanmu di sepertiga malam, angkat kedua tanganmu dan bersimpuhlah hanya pada-Nya. ‘War’ untuk mendapat pengabulan-Nya, sesungguhnya tidak ada yang dapat merubah takdir selain doa dan kehendak Tuhanmu Yang Maha Kuasa.
Comments